GUA GUNUNG MUJAROD DAN WALIYULLAH.
KERAMAT GUNUNG MUJAROD.
KERAMAT GUNUNG MUJAROD.
Assalamualaikum wr wbt.....sahabat-sahabat yang aku hormati semuanya, tidak kira di mana jua berada, baik dari dunia nyata mahupun sahabat dari dunia ghaib. Segala puji syukur kehadirat Allah swt. Selawat dan salam senantiasa dihatur ke atas Junjungan Baginda Nabi Muhammad saw. Dengan mengharap ridho Allah swt. dan dengan kerendahan hati yang paling dalam, izinkan aku yang miskin ilmu lagi dhoif ini berbagi sedikit ilmu dan pengalaman untuk dikongsi bersama sahabat-sahabat semua. Insya' Allah..
Gunung Mujarod menyimpan banyak misteri kerana gunung ini dikenal hanya oleh para Wali khususnya di Indonesia. Jika Gunung Mujarod memunculkan sinar terang benderang itu artinya sebagai pertanda lahirnya sosok Waliyullah. Dan Wali Allah itu menyebarkan ajaran doktrin " Martabat Tujuh ", yang kelak mempengaruhi pemikiran Tasawuf di Pulau Jawa. Dan inilah kisah sang wali yang dituturkan oleh Imam Mudofar, seorang santri asal Jawa Barat.
Sejarah ringkas Syeikh Haji Abdul Muhyi.
Syeikh Haji Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar tahun 1650 M /1071 H dan dibesarkan oleh orang tuanya di kota Gresik/ Ampel.
Syeikh Haji Abdul Muhyi lahir di Mataram sekitar tahun 1650 M /1071 H dan dibesarkan oleh orang tuanya di kota Gresik/ Ampel.
Beliau selalu mendapat pendidikan agama baik dari orang tua mahupun dari ulama-ulama sekitar Ampel. Kerana ketekunannya menuntut ilmu disertai dengan ibadah disamping kesederhanaan dan kewibawaan yang menempel di dalam diri beliau maka tak heran jika teman-teman sebaya selalu menghormati dan segan kepadanya.
SILSILAH KETURUNAN SYEIKH ABDUL MUHYI.
DARI AYAH :
- Ratu Galuh
- Ratu Puhun
- Kuda Lanjar
- Mudik Cikawung Ading
- Entol Penengah
- Sembah Lebe Warto Kusumah
- Syeikh Haji Abdul Muhyi.
- Ratu Puhun
- Kuda Lanjar
- Mudik Cikawung Ading
- Entol Penengah
- Sembah Lebe Warto Kusumah
- Syeikh Haji Abdul Muhyi.
DARI IBU :
Rasulullah saw.
- Sayyidina Ali Karomallahu wajhahu dan Fatimati Azzahro’.
- Sayyidina Husein.
- Ali Zaenal Abidin.
- Muhammad Al Baqir.
- Ja'far Ashodiq.
- Ali AI 'Aridhi.
- Muhammad.
- Isa Al Basyari.
- Ahmad Al Muhajir.
- Ubaidillah.
- 'Uluwi.
- Ali Kholi'i Qosim.
- Muhammad Shohibul Murobath.
-‘Uluwi.
- Abdul Malik.
- Abdullah Khona.
- Imam Ahmad Syah.
- Jamaludin Akbar.
- Asmar Kandi Gisik Karjo Tuban.
- Ishak Makdhum.
- Muhammad Ainul Yaqin.
- Sunan Giri Laya.
- Wira Candera.
- Kentol Sumbirana.
- Raden. Ajeng Tanganziah.
- Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi.
- Sayyidina Ali Karomallahu wajhahu dan Fatimati Azzahro’.
- Sayyidina Husein.
- Ali Zaenal Abidin.
- Muhammad Al Baqir.
- Ja'far Ashodiq.
- Ali AI 'Aridhi.
- Muhammad.
- Isa Al Basyari.
- Ahmad Al Muhajir.
- Ubaidillah.
- 'Uluwi.
- Ali Kholi'i Qosim.
- Muhammad Shohibul Murobath.
-‘Uluwi.
- Abdul Malik.
- Abdullah Khona.
- Imam Ahmad Syah.
- Jamaludin Akbar.
- Asmar Kandi Gisik Karjo Tuban.
- Ishak Makdhum.
- Muhammad Ainul Yaqin.
- Sunan Giri Laya.
- Wira Candera.
- Kentol Sumbirana.
- Raden. Ajeng Tanganziah.
- Waliyullah Syeikh Haji Abdul Muhyi.
Pada saat berusianya 19 tahun beliau pergi ke Aceh/ Kuala untuk berguru kepada Syeikh Abdul Ro'uf bin Abdul Jabar selama 8 tahun yaitu dari tahun 1090 -1098 H/1669 -1677 M. Pada usia 27 tahun beliau beserta teman sepondok dibawa oleh gurunya ke Baghdad untuk berziarah ke makam Syeikh Abdul Qodir Al-Jailani dan bermukim di sana selama dua tahun. Setelah itu mereka diajak oleh Syeikh Abdul Ra'uf ke Makkah untuk menunaikan Ibadah Haji.
Ketika sampai di Baitullah, Syeikh Abdul Ra'uf mendapat ilham kalau diantara santrinya akan ada yang mendapat pangkat kewalian. Dalam ilham itu dinyatakan, apabila sudah tampak tanda-tanda maka Syeikh Abdul Ra'uf harus menyuruh santrinya pulang dan mencari gua di Jawa bagian Barat untuk bermukim di sana.
Suatu saat sekitar waktu Ashar di Masjidil Haram tiba-tiba ada cahaya yang langsung menuju kepada Syeikh Abdul Muhyi dan hal itu diketahui oleh gurunya (Syeikh Abdur Ra'uf) sebagai tanda-tanda tersebut. Setelah kejadian itu, Syeikh Abdur Ra'uf membawa mereka pulang ke Kuala/ Aceh tahun 1677 M. Sesampainya di Kuala, Syeikh Abdul Muhyi disuruh pulang ke Gresik untuk minta restu dari kedua orang tua kerana telah diberi tugas oleh gurunya untuk mencari gua dan harus menetap di sana. Sebelum berangkat mencari gua, Syeikh Abdul Muhyi dinikahkan oleh orang tuanya dengan Ayu Bakta, putri dari Sembah Dalem Sacaparana. Setakat disini saja aku ceritakan serba sedikit tentang beliau, kerana jika aku ceritakan keseluruhan kisah beliau tak cukup satu hari...
Sejarah Gunung Mujarod bermula dari seorang Waliyullah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya di masa mudanya, setelah mendapat restu dari ayah dan ibundanya lalu Syekh Abdul Muhyi berangkat meninggalkan Gresik untuk Mencari Gua sebagai mandat yang diterimanya dari Syekh Abdul Ra'uf gurunya, beliau menuju ke arah Barat hingga sampai ke daerah Darma Kuningan yang terletak di Cirebon dan menetap di sana.
Syekh Abdul Muhyi bermukim di Cirebon lebih kurang selama tujuh tahun, sebelumnya masyarakat Darma Kuningan menyambut Syekh Abdul Muhyi dengan ramah tamah kerana ternyata daerah ini penduduknya sudah lebih dulu memeluk agama Islam.
Syekh Abdul Muhyi sering berinteraksi dengan masyarakat setempat kerana orang-orang disana sangat mengagumi kepribadian Syekh yang sederhana dan dikenal mempunyai ilmu tinggi tentang Agama Islam. Penduduk meminta beliau untuk menetap disana dalam rangka membina dan mendidik masyarakat dalam ilmu agama dan Syeh pun menerima tawaran tersebut hingga mencapai kurun waktu 7 tahun.
Khabar tentang keberadaan Syekh Abdul Muhyi di Darma Kuningan terdengar oleh Orang tua beliau di Gresik kemudian memutuskan untuk menyusulnya kesana dan ikut menetap di Darma Cirebon bersama sang putra menemani perjalanannya mengemban tugas dari guru.
Kegiatan Syekh Abdul Muhyi dalam membina masyarakat sehari hari tak menyurutkan niat utama beliau dalam upaya mencari Gua seperti yang diperintahkan oleh gurunya, dengan mencoba beberapa kali menanam padi tetapi mengalami kegagalan kerana ternyata hasil tuai/panennya melimpah. Sedangkan harapan beliau bahwa isyarat tentang keberadaan gua yang diceritakan oleh Syeikh Abdul Ra'uf adalah apabila di tempat itu ditanam padi maka hasilnya tetap sebenih, artinya si padi tidak bertambah banyak apabila dipanen dan itulah pertanda gua itu berada disana. Kerana tidak menemukan gua yang dicari akhirnya Syeikh Abdul Muhyi bersama keluarga bertemu untuk minta izin kepada penduduk desa untuk melanjutkan perjalanan.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang sampailah beliau beserta ayah bundanya di daerah Pameng Peuk, Garut Selatan. Di sini ia menyebarkan Agama Islam kepada penduduk setempat yang kala itu masih memeluk Agama Hindu dan bermukim selama 1 tahun dari 1685-1686 Masehi. Setahun kemudian ayahanda beliau yang bernama Sembah Lebe Warta Kusumah meninggal dunia dan dimakamkan di Kampung Dukuh di tepi Kali Cikaengan.
Beberapa hari setelah pemakaman ayahandanya, Syekh Abdul Muhyi melanjutkan perjalanan untuk mencari gua yang menjadi tujuan utama perjalanannya. Kisah beliau berlanjut setelah menetap sebentar di Batu Wangi hingga sampai di Lebaksiuh dan bermukim disini selama 4 tahun (1686-1690 M). Dari Lebaksiuh ia melanjutkan perjalanan ke sebelah timur yaitu ke arah gunung yang terletak di Kampung Cilumbu. Dari sana beliau turun ke lembah untuk bertafakur sambil melihat keindahan alam dan tetap menanam padi.
Bila hari petang tiba Syekh Abdul Muhyi kembali pulang menjumpai keluarganya di Lebaksiuh, jarak yang ditempuh antara keduanya tidak begitu jauh. Suasana alam pegunungan di Kampung Cilumbu selalu membawa perasaan tenang, maka gunung tersebut diberi nama Gunung Mujarod yang berarti ; " Gunung Untuk Menenangkan Hati.".
Pada suatu ketika, Syekh Abdul Muhyi melihat padi yang ditanam telah menguning dan tiba waktunya untuk dipanen. Saat dipetik terpancarlah sinar cahaya kewalian dan terlihatlah kekuasaan Allah. Padi yang telah dipanen tadi ternyata hasilnya tidak lebih dan tidak kurang sama dengan ketika awal ditanam. Hal inilah yang menjadi pertanda perjuangan beliau dalam upaya mencari gua telah dekat. Untuk meyakinkan kembali adanya gua di dekatnya maka ditanam lagi padi di tempat itu sambil berdoa kepada Allah semoga gua yang menjadi pencarian selama ini segera ditemukan. Akhirnya dengan kekuasan Allah, padi yang ditanam itu cepat tumbuh dan menguning, lalu dipetik ternyata hasilnya sama dengan panen yang pertama, dari sinilah ia meyakini bahwa di dalam gunung itu terdapat gua.
Ketika Syekh Abdul Muhyi berjalan ke arah Timur, beliau mendengar suara air terjun dan kicauan burung yang suaranya berasal dari dalam lubang. Lalu dilihatnya lubang besar itu ternyata keadaannya serupa dengan gua yang diceritakan oleh gurunya. Seketika itulah kedua tangannya diangkat, memuji kebesaran Allah. Akhirnya ditemukan jua gua bersejarah, dimana ditempat inilah dahulu kala Syekh Abdul Qodir Al Jailani menerima ijazah ilmu agama dari gurunya yakni Imam Sanusi.
Gua ini berada diantara kaki Gunung Mujarod, sekarang lebih dikenal dengan nama Gua Safarwadi Pamijahan dan para penziarah sering mengunjungi gua ini setelah sebelumnya melakukan ziarah ke makam Waliyullah Syekh Abdul Muhyi di Pamijahan. Gua Safarwadi merupakan warisan dari Syekh Abdul Qodir Al Jailani ra, seorang Sulthanul waliyullah yang hidup 200 tahun sebelum masa Syeikh Abdul Muhyi. Semenjak gua ditemukan, Syekh Abdul Muhyi semasa hidupnya bermukim disini bersama keluarga dan para santrinya.
Kisah Gunung Mujarod ini pernah aku beberkan sebelumnya. Iaitu ketika aku dan sahabat-sahabat santri (pelajar) mengemban amanah dari guru Mursyid untuk disampaikan kepada Nabi Khidir as dan Syekh Sanusi empunya (penjaga) Gua Mujarod. Dan disitu jugalah pertama kali aku dapat melihat cahaya merah yang berkilau-kilau berpantul-pantulan berasal dari batu-batu Mustika Merah Delima (buah al Karom) yang berkelap-kelip bercahaya, dan sempat juga ketua kami (sinior) iaitu Idris Nawawi memetik 4 biji batu Mustika Delima
(buah al Karom) dari dahan-dahan yang menempel di atap-atap gua.
(buah al Karom) dari dahan-dahan yang menempel di atap-atap gua.
Tetapi yang hendak aku ceritakan ini, kisah sebelum aku dan sahabat-sahabat dari Pondok Pesantren Jami'ul Ijazah berpeluang untuk masuk ke Gua Mujarod, sebelum mengemban amanah dari sang guru Mursyid yang kami hormati.
Ok, mari sahabat-sahabat ikut aku ke Gunung Mujarod...
Pada mulanya aku sendiri belum pernah menjejakkan kaki atau bertandang langsung ke Gunung Mujarod. Sebab desas desus dari beberapa cerita guru-guru Mursyid yang aku temui sebelumnya, konon lebih 350 tahun yang lampau gunung ini Raib (hilang) dari pandangan manusia biasa, seperti halnya cerita dari perjalanan hidup Habib Muh, Tegal Rejo Magelang Jateng, yang pernah aku ketahui sewaktu masih di Pesantrennya pada tahun 1998 lalu.
Beliau bercerita bahwa dirinya pernah masuk kedalam Gua Mujarod atas undangan yang empunya Gua Mujarod iaitu, Sulthonul Waliyullah Syekh Sanusi, di saat beliau diangkat derajat anugerah di syahid menjadi Waliyullah Abdal, pada tahun 1982 lalu dan lewat kisahnya ini yang menyatakan bahwa di saat beliau baru masuk ke dalam gua tersebut, beliau langsung disambut oleh ratusan kalajengking yang besarnya Masya' Allah, iaitu berkisar 40 cm. Bukan hanya sebatas itu saja, beliau di uji dalam keyakinan saat berada di dalam Gua Mujarod. Beliau juga sempat melihat secara mata zahir, beberapa ekor ular raksasa yang besarnya melebihi badan kereta siap menghadangnya.
Dan ini bersifat real bukan hanya sekadar fatamorgana dari sifat ghaib atau binatang jadi-jadian(siluman) yang mendiami gunung tadi yang berusia dari ratusan tahun dan tidak pernah terusik oleh manusia yang berani masuk. Terangnya lagi, juga kisah yang pernah dialami oleh Habib Nur Ali yang pernah masuk ke dalamnya di saat mendapat panggilan dari Syekh Sanusi atas pengangkatan dirinya sebagai Waliyullah Bangsa Rijalul Ghaib.
Beliau bercerita. Tidak ada syafaat yang lebih besar di seluruh wilayah yang ada di Indonesia ini kecuali Gua Mujarod. Dan tidak ada suatu pengangkatan Waliyullah yang diakui oleh Wali lainnya kecuali melalui tangan Syekh Sanusi sendiri sebagai Makom tertinggi yang telah mendapatkan keafdolan dari Allah swt dengan diberikannya umur panjang sampai hari kiamat kerana kemustajaban Air Mujarod ( air Mujarod tidak sama dengan Air Ainul Hayat milik Nabi Khidir as) yang dimilikinya dan tidak ada satu pun Wali di dunia ini yang tidak memerlukan rahmatnya, kerana sesungguhnya beliau tercipta sebagai Raja dari semua Waliyullah. Lanjut Habib Nur Ali lagi ;
"Jangan sesekali masuk kedalamnya sebelum yang empunya datang sendiri memanggil kamu, sebab lebih dari seabad yang lalu para manusia yang mengaku dirinya, hebat, ahli bathin tingkat tinggi, lebih dari 77 orang telah raib(hilang) dan tidak diketahui jasad dan rimbanya."
Dari beberapa kisah yang pernah dituturkan oleh para Masyaikh ini membuat siapapun yang mendengar akan bergedik dan berfikir seratus kali untuk masuk kedalam Gua Gunung Mujarod yang konon penuh akan Karomah juga sebaliknya penuh misteri yang sangat mengerikan. Mungkin sahabat-sahabat masih bertanya-tanya dengan kisah ini, sebenarnya di mana letak sesungguhnya Gua Gunung Mujarod tersebut...?
Menurut cerita para Masyaikh tadi bahwa, Gunung Mujarod ini terletak di salah satu areal pesarean(permakaman) Syeikh Abdul Muhyi Pamijahan Tasik Jawa Barat yang sangat kondang(terkenal) akan derajat kewaliyannya dan banyak diziarahi oleh berbagai lapisan masyarakat lokal mahupun dari luar negara. Namun jika sahabat-sahabat pernah datang kesana dan membeli buku sejarah yang banyak dijual bebas di sepanjang toko kaki lima di sekitar areal pesarean Ki Muhyi Pamijahan, dengan judul bukunya ;
" Sejarah Perjuangan Syeikh Haji Abdul Muhyi Waliyullah Pamijahan."
Disitu tidak dituliskan sama sekali tentang letak Gua Gunung Mujarod yang membawa banyak rahmat dan maghfirah untuk seluruh pengangkatan Waliyullah sedunia. Mungkin boleh jadi mereka memandangnya tidak perlu membesarkan nama dan letak Gua Mujarod, alasannya keluarga mereka juga tidak ada yang berani sampai masuk ke dalamnya, sehingga dengan ini pula para keturunannya tidak sampai mencantumkan perihal Gua Gunung Mujarod yang sebenarnya.
Ok,.....dari sini pula diawali bulan Syawal 1429 H, lalu. Guru kami mengundang kami yang intinya menyuruh santri(pelajar) sinior iaitu Idris Nawawi datang ke Gua Mujarod, kerana sebuah undangan / panggilan darinya (Syeikh Sanusi). Seperti halilintar menyambar di siang hari, hati aku macam nak jatuh dan langsung bergetar keras mendengar apa yang baru diucapkan oleh Mursyid tadi. Siapa yang tidak takut dengan nama Gua Gunung Mujarod yang penuh dengan kengerian dan fenomena ghaib yang boleh membawa badan kita seketika raib(hilang) disaat baru masuk kedalamnya.
Namun sepertinya Mursyid tidak mahu ambil ringan dan mengharuskan kami secepatnya pergi kesana.
" Ini perintahnya dan bukan kamu yang pinta, lakukan apa yang aku ucapkan." kata sang guru, tegas.
Sepulang dari kediaman sang guru hati aku terus bergemuruh antara siap dan tidak, untuk melaksanakan tugas datang ke Gua Gunung Mujarod. Dan mulai hari itu pula kami diwajibkan Puasa Mutih sehingga hati kami benar-benar merasa tenang dan siap dengan keyakinan untuk sampai datang ke Gua Gunung Mujarod.
Dua minggu telah berlalu, hati aku semakin mantap untuk sesegera mungkin melaksanakan tugas mulia yang diembankan oleh sang guru dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi aku dan Idris Nawawi pun langsung datang meminta restunya. Namun sebelum berangkat ke Gua Gunung Mujarod, Mursyid langsung mengijazahkan amaliyah khususiah iaitu berupa :
" HIZIB JABARUT dan ULUHIYYAH."
Insya' Allah, aku akan ijazahkan Hizib Jabarut dan Uluhiyyah kepada sahabat-sahabat yang ingin mengamalkannya, terutama sekali para ahli Kampus Tok Badai. Semoga Hizib Jabarut dan Uluhiyyah bermanfaat buat sahabat-sahabat di dunia dan akhirat....Aamiin Ya Rabbal 'Alamiin...
" Bawalah teman-temanmu untuk mendampingimu sampai tujuan dan pilihlah mereka yang hatinya telah memahami keikhlasan." Pesan Mursyid kepada kami berdua.
Dan setelah itu beliau juga memberikan beberapa tata cara dan kunci disaat akan masuk ke Gua Gunung Mujarod, agar selamat dari segala binatang buas dan bangsa lelembut (ghaib) yang sengaja menghadang dan menyesatkan perjalanan mulia ini. Aku dan Idris Nawawi pun langsung mengumpulkan beberapa sahabat Jam'ul Ijazah yang masuk dalam kategori seperti yang kami inginkan, sehingga waktu itu cuma 15 orang saja yang kami bawa ikut serta.
Singkat cerita, sampailah kami semua didepan pintu Gua Gunung Mujarod, melalui panduan dari sang guru. Untuk memasuki mulut gua, kami terpaksa sedikit merangkak. Kerana mulut gua sedikit kecil dan licin, dan tentu sekali gelap gulita, harus menggunakan lampu picit. Setelah beberapa menit, ternyata apa yang aku takutkan selama ini tidak sampai terjadi, sebab gua yang semestinya gelap gulita itu ternyata terang benderang kerana ternyata di dalamnya sudah terlebih dahulu ada dua orang sebelum group kami sampai/datang. sorban serba putih yang disaat kami masuk keduanya menutup wajahnya dengan kain sorban yang dipakainya.
Nah,.....rupanya dari sorban merekalah baru aku tahu cahaya terang benderang itu berasal, sehingga dengan pancaran sinar cahaya yang teramat terang ini kami semua akhirnya dapat melihat seisi ruangan gua yang ternyata semuanya terbuat dari batu marmer asli. Namun sebelumnya aku mohon maaf kepada sahabat-sahabat semua, kerana tidak dapat menceritakan secara keseluruhan(detail) apa yang terjadi di dalam gua tersebut, sebab bersifat SIRR/rahsia, hanya saja di dalam gua tersebut banyak fenomena dan keganjilan yang tidak masuk di akal yang kami rasakan secara nyata. Sehingga semua yang ikut serta masuk dapat pula menyaksikannya secara takjub dan ajaib yang mungkin menurut mereka tidak akan hilang dari ingatannya selama umur masih dikandung badan.
Alhamdulillah, akhirnya kami semua selamat dan dapat pulang kembali tanpa sedikitpun ada kendala, walau dalam perjuangan yang sebenarnya penuh haru dan tangisan bahagia yang tidak dapat dilukiskan oleh bentuk apapun juga.
Dari kisah inilah, Alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan sosok yang selama ini kami cari dan sempat pula mencium tangannya, yaitu, Sulthonul Bahri atau Penguasa/Penjaga Laut Sedunia, Nabiyullah Khidir AS, dan Sulthanul Wali Kajeng Syeikh Sanusi Pamijahan.
Dari kisah inilah, Alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan sosok yang selama ini kami cari dan sempat pula mencium tangannya, yaitu, Sulthonul Bahri atau Penguasa/Penjaga Laut Sedunia, Nabiyullah Khidir AS, dan Sulthanul Wali Kajeng Syeikh Sanusi Pamijahan.
Setelah semua yang diamanahkan oleh Mursyid kami sempurnakan, dan dua orang tadi sudah meninggalkan kami, maka suasana di dalam gua menjadi gelap gulita semula. Kami lanjutkan lagi jalan ke dalam gua dengan menggunakan lampu picit dan lampu pelita. Setelah agak beberapa lama kami berjalan, di hadapan kami terlihat cahaya yang terang berkelap- kelip berwarna merah(seperti lampu kelap- kelip Hari Raya).
Setelah sampai di situ, barulah aku tahu cahaya-cahaya itu berasal dari batu-batu berbentuk tetes air yang melekat di dahan-dahan yang melingkar diatas dinding gua, sungguh menakjubkan. Idris Nawawi sempat memetik/mengambil 4 biji batu Merah Delima itu, lalu di masukkan ke poket seluarnya. Aku dan yang lain-lain tidak berani mengambilnya. Itulah cerita seputar dunia mistik yang aku alami di gunung keramat ini.
Lewat panduan sang guru yang telah diajarkan, Alhamdulillah akhirnya kami semua selamat dan pulang kembali tanpa ada sedikitpun kendala. Ketika kami sampai saja dipondok langsung menyerahkan apa yang menjadi tugas kami di hadapan Mursyid dan tak lupa juga Idris Nawawi tunjukkan dan bertanya tentang batu yang memancarkan cahaya ketika di dalam Gua Mujarod. Setelah diperlihatkan pada Mursyid, beliau hanya tersenyum....
" Itu adalah buah Al Karom, kamu telah masuk ke Alam Thuroby( Alam Nabi Khidir as), namun sayang, kamu hanya sampai di depan pintunya saja. Makanya buah yang kamu ambil itu masih amat muda dan belum bisa dijadikan wasilah sebagai syareat pegangan." hehehehe....
Lalu beliau mengambil satu tepak/mangkuk kuningan dan berkata :
" Nah....ini ada 313 biji buah Al Karom yang sudah jadi(matang), yang mana aku menjadikannya 3 sifat (khasiat) khusus untuk ilmu Laduni, Derajat(duniawi) dan Multifungsi (serba guna). Semoga batu ini dimiliki oleh orang-orang yang berhati ahli Sodaqoh." terangnya.
Aku mengambil 15 biji buah Al Karom@Mustika Merah Delima.
Sebelum sampai penghujung cerita, aku atas nama pribadi memohon maaf yang sebesarnya apabila tulisan ini terlalu vulgar dan sangat transparan. Bukan maksud menggurui siapa pun, aku hanya insan biasa, miskin dan dahaga dengan ilmu, apalagi ilmu agama. Aku hanya ingin berkongsi pengalaman dan menceritakan yang sebenarnya atas apa yang pernah aku lihat dan perolehi sewaktu masuk ke dalam Gua Gunung Mujarod yang sangat membawa pengaruh besar bagi diri aku.
Tentunya bagi para Ahlilah dan ahli Bathin Khosois lainnya, tidak ada yang tidak faham tentang siapa jati diri, Syeikh Sanusi sesungguhnya dan apa pula yang dimaksud dari maul Mujarod yang disebut sebagai keluhuran seluruh Desa Pamijahan. Dan juga bagaimana Syeikh Abdul Qodir Al Jailani ra, sampai datang ke Gua Mujarod dari negaranya Baghdad(Iraq) hanya sekadar ingin disahkan Derajat Kewaliannya sehingga beliau mahu menetap lama di daerah Pamijahan sebagai muridnya.. Dan peninggalan dari Syeikh Abdul Qodir Al Jailani ra, masih boleh dilihat di salah satu areal Gunung Mujarod, iaitu Gua Safar Wadi, yang telah dibuatnya sendiri. Bahkan dalam sejarah Wali Songo gua ini sempat dijadikan tempat bermusyawarahnya para Waliyullah.
Nah.....bagi sahabat yang penasaran ingin mengetahui dengan jelas letaknya Gua Gunung Mujarod yang konon tidak ada dalam daftar peta mahupun buku panduan. Aku akan kongsi sedikit memberi panduan jalannya kepada sahabat-sahabat semua.
Apabila sahabat sampai ke Gua Safar Wadi milik Syeikh Abdul Qodir Al Jailani, tentunya sahabat juga tahu betul akan jalan lurus yang sebelumnya belok ke kanan sebelum arah menuju Gua Safar Wadi, iaitu naik ke atas bukit lewat jalan setapak yang sama sekali tidak pernah dijamah oleh kaki manusia.
Kalau ke Gua Gunung Mujarod, belok ke kiri dan berlawanan arah dengan jalan menuju Gua Safar Wadi tadi. Apabila sudah sampai ke sebuah bukit paling atas, berputarlah ke arah kanan dan nanti disitu ada sebuah jurang yang sangat dalam. Masuklah dengan jalan agak merangkak kerana sangat licin dan juga terjal. Turunlah sampai masuk ke sebuah cadas berair.
Nah, disitu sahabat dapat melihat secara jelas sebuah mulut gua kecil yang bila melihat ke dalamnya tidak akan tembus pandang kerana terlalu gelap. Berhati-hatilah bagi yang kurang persiapan mental, kerana disambut saat masuk gua oleh beberapa kalajengking raksasa dengan panjang antara 30 sampai 40 cm..??.
Ajaran dan Karamah.
Selain menjadi Mursyid Tarekat Syattariyyah, Syekh Abdul Muhyi juga mengajarkan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Beliau menulis risalah Tarekat ini yang berjudul ; " Kitab Tariqah Qadriyyah Wa Naqsyabandiyyah."
Selain menjadi Mursyid Tarekat Syattariyyah, Syekh Abdul Muhyi juga mengajarkan Tarekat Qadiriyyah wa Naqsyabandiyyah. Beliau menulis risalah Tarekat ini yang berjudul ; " Kitab Tariqah Qadriyyah Wa Naqsyabandiyyah."
Sebagaimana Mursyid Tarekat pada umumnya, Syekh Abdul Muhyi mementingkan penanaman zikir, agar tidak sekadar lisan, tetapi juga merasuk dan tertanam kuat dalam hati. Syekh Abdul Muhyi menyebutkan tujuh prinsip perjalanan spiritual yang didasarkan pada zikir kalimat Tauhid.
1.) - Pertama adalah mendekatkan diri secara zahir dan batin.
2.) - Kedua adalah mengisi Lathaif (organ batin) dengan Kalimah " LAA ILAHA ILLALLAH ".
3.) - Ketiga adalah menyatukan penglihatan mata batin dengan " RASA " Tuhan.
Selalu menyadari kekuasaan, otoritas dan kekekalan Allah. Unsur indera jasmani harus bersatu dengan indera ruhani dan hati.
Selalu menyadari kekuasaan, otoritas dan kekekalan Allah. Unsur indera jasmani harus bersatu dengan indera ruhani dan hati.
4.) - Keempat adalah menyatukan kalimat thoyyibah dengan diri keseluruhan :
- Indera.
- Fikiran
- Perasaan.
- Hati.
- Indera.
- Fikiran
- Perasaan.
- Hati.
5.) - Kelima adalah mengaktualkan kalimat thoyyibah dalam perbuatan, yakni mempraktiskannya secara rinci. Ada empat modal utama dalam hal ini, yakni :
- Yakin,
- Iman,
- Islam dan sabar.
- Yakin,
- Iman,
- Islam dan sabar.
6.) - Keenam adalah menjauhi semua perbuatan dosa.
7.) - Dan ketujuh adalah menyatukan diri dalam kodrat dan iradat Ilahi.
BERSAMBUNG....
* ASMA' JABARUT DAN ULUHIYYAH.
Asma' ini merupakan amalan tingkat tinggi tanpa harus mengatakan yang tertinggi, kerana khodam dari Asma ini, adalah semua Khodam Hari (Uluwiyah dan Sufliyah /7 Malaikat dan Jin Khodam hari) iaitu Khodam Langit dan Bumi.
Amalan ini merupakan amalan Nabi Sulaiman as yang selanjutnya di amal oleh Ashif bin Barkhoyah (yang memindahkan Istana Puteri Balqis) dan Ulama Syalaf.
FADHILAHNYA :
- Asma' ini multifungsi, sesuai dengan hajat pengamal.
- Dapat menggoncangkan gunung dan bumi dengan keagungannya.
- Menciutkan nyali lawan.
- Menghancurkan musuh.
- Pengasihan.
- Khotif dan hijab dan lain-lain.
- Dapat menggoncangkan gunung dan bumi dengan keagungannya.
- Menciutkan nyali lawan.
- Menghancurkan musuh.
- Pengasihan.
- Khotif dan hijab dan lain-lain.
1.) ASMA' JABARUT.
SUBHANAKA YAA DZAL MALAKI WAL MALAKUT. SUBHANAKA YAA DZAL QUWWATI WAL JABARUT. SUBHANAKA YAA HAYYU LAA YAMUUT.
SUBHANAKA YAA MAN TA'AALA.
SUBHANAKA YAA MAN TA'AALA.
2.) ASMA' ULUHIYYAH.
A MAN LAHU MALIKIL AKHIROH WAL UULAA.
TA'AILAITA ROBBII 'AMMAA YAQUULUD DLAALIMUUNA ALWAN KABIIRO.
TA'AILAITA ROBBII 'AMMAA YAQUULUD DLAALIMUUNA ALWAN KABIIRO.
3.) SHOLAWAT NUR DZATI.
ALLAHUMMA SHOLI WA BARIK ALA MUHAMMAD. ANNURID 'DZATI WAS SIRRIS SAARI FI SAIRIL ASMAI WASH SHIFATI WA ALA ALIHI WA SHOBIHI WASSALIM.
TATA CARANYA :
* Wiridkan Asma' Jabarut sebanyak 21x selama 7 hari berturut-turut jangan putus selesai sholat fardhu. Malamnya laksanakan sholat Taubat dan Hajat dibaca 41x.
* Selesai 7 hari, wirid pula Asma' Uluhiyyah sebanyak 21x, selama 7 hari juga. Dan malamnya sholat Taubat dan Hajat dibaca 41x.
* Setelah selesai ritual cara di atas, wiridkan Sholawat Nur Dzati sebanyak 21x, selama 40 hari dan malamnya di wirid 41x, tanpa putus.
* Setelah tata cara diatas selesai amalkan setiap sholat Subuh dan Maghrib Asma' Jabarut 7x, Asma' Uluhiyyah 7x dan Sholawat Nur Dzati 41x.
UNTUK PENGUJIAN :
a.) Ambil jarum dan patahkan dengan menggunakan lengan dan pergelangan tangan (100% yakin). Kalau tak yakin salah sendiri, hehehehe...
b.) Jika sudah 3 bulan mengamalkannya secara Istiqomah, Uji dengan senapang angin tembak 3x. Insya' Allah hanya titik merah saja.
c.) Sewaktu pengujian baca dan tahan nafas 3x saja amalan diatas.
Jangan selalu tes, nanti kata khodam sahabat sombong dan takabur pulak, hehehe...
Istiqomah lebih baik dari seribu Karomah...!
Amalkan jika bermanfaat, tinggalkan jika bakal merusak moral...
Amalkan jika bermanfaat, tinggalkan jika bakal merusak moral...
SEKIAN DAHULU..
QUL HU ALLAHU AHAD. LAA ILAHA ILLA ANTA SUBHANAKA INNI KUNTU MINAZ ZALIMIN. LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH...
Seperti biasa ambil sisi positif dari cerita dan keilmuan ini, yang negatif jangan diambil. Kekuatan yang tidak bisa ditandingi adalah, kekuatan daripada Allah s.w.t. Sang Maha Pencipta.
Sekiranya ada tutur bahasa dan tingkah laku yang tidak berkenan di hati para sahabat-sahabat semua, aku. TOK PENJEJAK BADAI, dengan merendahkan diri memohon maaf....
TERIMA KASIH......
OLEH :
TOK PENJEJAK BADAI.


No comments:
Post a Comment